Home » Karir » Cara Menolak Tawaran Kerja dengan Profesional & Sopan

Cara Menolak Tawaran Kerja dengan Profesional & Sopan

Menerima tawaran kerja, siapa yang tak gembira? Namun, adakalanya kita harus berbesar hati menolak pinangan tersebut. Entah karena ada tawaran lain yang lebih menggiurkan, posisi yang ditawarkan kurang sejalan dengan cita-cita karir, atau ada ganjalan pribadi lainnya, menolak tawaran kerja itu lumrah terjadi dalam dinamika profesional.

Kendati demikian, menolak tawaran kerja tak bisa sembarangan. Butuh perhitungan matang dan sentuhan profesionalisme. Salah langkah dalam menolak, bisa-bisa merusak citra diri dan bahkan menutup rapat pintu rezeki di kemudian hari. Nah, artikel ini akan menjadi kompas Anda, membimbing selangkah demi selangkah bagaimana menolak tawaran kerja dengan etika, kesantunan, dan efektif, agar tali silaturahmi dengan perusahaan tetap terjalin erat.

Mengapa Penting Menolak Tawaran Kerja dengan Baik?

Menolak tawaran kerja memang sering membuat kita salah tingkah. Tapi jangan salah, melakukannya dengan cara yang tepat adalah investasi tak ternilai bagi perjalanan karir Anda kelak. Ada segudang alasan mengapa etika dan profesionalisme harus menjadi panglima dalam proses penolakan ini.

Menjaga Reputasi Profesional

Dunia profesional itu, ibarat kata, tak selebar daun kelor. Orang yang Anda tolak hari ini, siapa sangka, bisa jadi kolega, atasan, atau bahkan klien Anda di masa depan. Maka dari itu, menjaga citra diri agar tetap positif itu harga mati. Penolakan yang tak elok, semisal menghilang bak ditelan bumi (ghosting) atau melontarkan alasan yang tak pantas, bisa tersebar laksana api dalam sekam dan mencoreng nama baik Anda secara permanen di mata para pencari bakat.

Sebaliknya, penolakan yang santun dan gamblang justru menunjukkan Anda sebagai pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, serta menghargai waktu dan jerih payah orang lain. Ini adalah cerminan kematangan dan kejujuran diri, dua kualitas yang selalu jadi dambaan di belantara dunia kerja.

Membuka Peluang di Masa Depan

Perusahaan yang Anda tolak hari ini, siapa tahu, esok hari punya posisi lain yang lebih pas untuk Anda. Dengan menolak tawaran kerja secara profesional, Anda justru tidak membakar jembatan. Malah sebaliknya, Anda menanamkan kesan baik yang bisa menjadi kunci pembuka gerbang kolaborasi atau kesempatan kerja lain di kemudian hari. Para rekruter dan manajer perekrutan akan menyimpan memori positif tentang sikap Anda, dan bisa jadi tak sungkan untuk kembali mengulurkan tangan di masa depan.

Membangun nama baik dan memperkuat jejaring profesional itu ibarat memupuk harta karun yang tak ternilai harganya. Penolakan yang dilakukan dengan kepala dingin justru menjadi salah satu cara untuk memperkokoh jejaring ini, bukan meruntuhkannya.

Menghargai Waktu Perekrut dan Perusahaan

Proses rekrutmen itu bukan perkara sepele. Butuh waktu, energi, dan sumber daya yang tak sedikit dari pihak perusahaan. Mulai dari menyortir CV, gencar melakukan wawancara, hingga akhirnya menyodorkan tawaran, setiap tahapan melibakan banyak pihak dan tentu saja, biaya. Dengan melontarkan penolakan yang gamblang dan tidak berlarut-larut, Anda menghargai investasi waktu dan keringat yang telah mereka kucurkan.

Penolakan yang tak pakai lama juga memberi kesempatan perusahaan untuk segera beralih ke kandidat lain, agar roda proses rekrutmen mereka tak tersendat. Ini adalah bentuk penghormatan yang mencerminkan bahwa Anda menghargai jerih payah mereka, meski pada akhirnya Anda tak jadi bergabung.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menolak Tawaran Kerja?

Setelah menerima tawaran kerja, mungkin Anda merasa didesak untuk segera memberi jawaban. Namun, krusial sekali untuk mengambil jeda sejenak guna menimbang-nimbang, tanpa pula berlama-lama menunda. Mencari momentum yang pas adalah kunci utama untuk penolakan yang efektif dan berkelas.

Setelah Menerima Tawaran Tertulis

Idealnya, jangan terburu-buru menolak tawaran kerja kecuali Anda sudah menggenggam tawaran resmi secara tertulis, lazimnya via email. Ini memastikan Anda punya semua perincian gaji, tunjangan, dan kondisi kerja di tangan untuk ditelaah dengan cermat. Jangan hanya menolak berlandaskan obrolan lisan, sebab rincian bisa saja berubah dan Anda bisa kehilangan informasi vital.

Begitu tawaran tertulis sudah di tangan, luangkan waktu untuk menilainya kembali. Bandingkan dengan tawaran lain (jika ada) atau dengan ekspektasi karir yang sudah Anda patok. Proses ini menuntun Anda pada keputusan yang lebih matang, bukan keputusan seujung kuku.

Dalam Jangka Waktu yang Wajar

Mayoritas perusahaan akan memberi Anda batas waktu tertentu untuk merespons tawaran, biasanya berkisar 24 hingga 72 jam, atau bahkan seminggu penuh. Berusahalah untuk menyerahkan respons penolakan Anda sebelum tenggat waktu yang ditetapkan. Jika Anda butuh waktu ekstra untuk menimbang-nimbang, jangan sungkan untuk meminta perpanjangan waktu secara santun kepada perekrut.

Mengulur-ulur waktu penolakan bisa menciptakan kesan tidak profesional dan juga menghambat laju proses rekrutmen perusahaan. Berikan keputusan Anda secepatnya setelah hati Anda mantap, tanpa pula tergesa-gesa.

Ketika Anda Yakin dengan Keputusan Anda

Pastikan Anda sudah menimbang segala sisi dan mantap dengan keputusan untuk menolak. Jauhi mengambil keputusan terburu-buru yang bisa jadi akan Anda sesali di kemudian hari. Jika masih ada ganjalan di hati, coba bicarakan dengan mentor, teman, atau anggota keluarga yang Anda percaya untuk memperoleh sudut pandang lain.

Begitu tawaran ditolak, sungguh tidak etis dan tidak profesional jika mencoba menarik kembali penolakan atau meminta negosiasi ulang. Maka dari itu, pastikan keputusan Anda sudah bulat bak telur, sebelum menekan tombol ‘kirim’ pada pesan penolakan.

Persiapan Sebelum Menolak Tawaran Kerja

Sebelum pena menari atau lisan berucap penolakan, ada beberapa hal yang patut Anda siapkan. Persiapan yang cermat akan menjadi jembatan bagi Anda untuk menyampaikan pesan dengan gamblang, santun, dan tepat sasaran.

Pertimbangkan Alasan Anda

Meski Anda tak punya kewajiban untuk merinci alasan penolakan kepada perusahaan, krusial sekali bagi Anda untuk memahami betul akar masalah mengapa Anda menolak. Apakah karena gaji yang kurang sreg, budaya perusahaan yang tak klop, ada tawaran lain yang lebih memikat, atau sekadar alasan pribadi? Dengan tahu alasannya, Anda akan lebih percaya diri menyampaikan penolakan, dan bila memang harus, bisa memberikan alasan singkat yang umum dan tidak menyakitkan.

Ingat baik-baik, alasan yang Anda sampaikan kepada perusahaan harus berbalut nuansa positif atau netral, jauh dari kesan negatif atau merendahkan. Misalnya, daripada melontarkan “Perusahaan Anda membosankan”, lebih baik katakan “Saya telah menemukan peluang lain yang lebih sejalan dengan tujuan karir jangka panjang saya.”

Pilih Metode Komunikasi

Metode komunikasi yang paling lazim dan sangat dianjurkan untuk menolak tawaran kerja adalah email. Email bersifat formal, menyediakan jejak tertulis, dan memberi Anda ruang untuk merangkai kata-kata dengan hati-hati. Ini juga memberi kesempatan bagi penerima untuk mencerna informasi tanpa terburu-buru.

Namun, jika Anda punya hubungan yang cukup akrab dengan perekrut atau manajer perekrutan, atau jika tawaran itu muncul setelah serangkaian wawancara yang intens, Anda bisa menimbang untuk menolak via telepon terlebih dahulu, lalu disusul dengan email konfirmasi. Pastikan untuk menjaga intonasi suara tetap santun dan berkelas.

Siapkan Poin-Poin Penting

Apapun metode komunikasi yang Anda pilih, siapkanlah poin-poin penting yang ingin Anda sampaikan. Ini akan memastikan tak ada hal krusial yang terlewat dan pesan Anda tetap tertata rapi. Adapun poin-poin tersebut meliputi:

  • Ucapan terima kasih setulus hati atas tawaran dan waktu yang telah mereka luangkan.
  • Pernyataan penolakan yang gamblang, tanpa tedeng aling-aling.
  • Alasan singkat yang positif (pilihan).
  • Doa dan harapan baik agar perusahaan segera menemukan kandidat yang pas.

Dengan bekal poin-poin ini, Anda akan merasa lebih yakin diri dan mampu menyampaikan penolakan dengan luwes dan berkelas.

Struktur Pesan Penolakan Tawaran Kerja yang Efektif

Pesan penolakan yang apik itu mestilah ringkas, gamblang, dan berkelas. Mengikuti struktur tertentu bisa menjadi penolong Anda dalam merangkai pesan yang manjur dan menorehkan kesan baik.

Sampaikan Terima Kasih

Awali pesan Anda dengan untaian terima kasih yang tulus atas tawaran kerja dan waktu yang telah perusahaan curahkan selama proses wawancara. Ini adalah cerminan rasa hormat dan penghargaan Anda atas jerih payah mereka. Sebutkan nama perusahaan dan posisi yang ditawarkan, sebagai bukti bahwa Anda mencermati setiap detailnya.

Contoh: “Terima kasih banyak atas pinangan untuk posisi [Nama Posisi] di [Nama Perusahaan] yang telah Anda berikan. Saya sungguh menghargai waktu dan perhatian yang telah Anda curahkan selama proses wawancara.”

Nyatakan Penolakan dengan Jelas

Usai berucap terima kasih, segera sampaikan inti pesan Anda: bahwa Anda menolak tawaran tersebut. Lakukan ini dengan terus terang namun santun, tak perlu berputar-putar. Kejelasan akan menghindarkan kebingungan dan memberi perusahaan kesempatan untuk segera melanjutkan proses rekrutmen mereka.

Contoh: “Setelah menimbang-nimbang dengan seksama, dengan segala hormat, saya memutuskan untuk menolak tawaran ini.”

Berikan Alasan Singkat (Opsional)

Anda tak punya kewajiban untuk merinci alasan di balik penolakan Anda. Namun, jika Anda memilih untuk memberi tahu, berikanlah alasan yang ringkas, umum, dan bernada positif atau netral. Jauhi segala bentuk kritik terhadap perusahaan atau posisi yang ditawarkan. Alasan umum yang sering jadi pegangan adalah “mendapat kesempatan lain yang lebih cocok” atau “memilih untuk menempuh jalur karir yang berbeda”.

Contoh: “Keputusan ini saya ambil lantaran saya telah menerima pinangan lain yang lebih sejalan dengan tujuan karir jangka panjang saya saat ini.” Atau, “Meski saya sangat menghargai peluang ini, saya merasa ada jalur karir lain yang lebih selaras dengan cita-cita saya.”

Ucapkan Harapan Terbaik

Akhiri pesan Anda dengan untaian harapan terbaik agar perusahaan segera menemukan kandidat yang cocok untuk posisi tersebut. Ini adalah sentuhan berkelas yang apik dan membantu memelihara hubungan baik.

Contoh: “Semoga Anda lekas menemukan kandidat yang pas untuk mengisi posisi ini, dan saya mendoakan yang terbaik bagi kesuksesan [Nama Perusahaan] di masa depan.”

Contoh Pesan Penolakan Tawaran Kerja

Berikut adalah beberapa contoh pesan penolakan yang bisa Anda jadikan patokan, disesuaikan dengan situasi Anda. Ingat, selalu sesuaikan detailnya ya.

Contoh Email Formal

Ini adalah kerangka umum yang bisa Anda pakai untuk mayoritas situasi.

Subjek: Penolakan Tawaran Kerja - [Nama Anda] - Posisi [Nama Posisi]

Yth. Bapak/Ibu [Nama Manajer Perekrutan/Perekrut],

Terima kasih banyak atas pinangan untuk posisi [Nama Posisi] di [Nama Perusahaan] yang telah Anda berikan kepada saya. Saya sungguh menghargai waktu dan perhatian yang telah Anda curahkan selama proses wawancara, serta kesempatan untuk menyelami lebih dalam peran dan tim Anda.

Setelah menimbang-nimbang dengan seksama, dengan segala hormat, saya memutuskan untuk menolak tawaran ini. Keputusan ini saya ambil lantaran saya telah menerima pinangan lain yang lebih sejalan dengan tujuan karir jangka panjang saya saat ini.

Saya ingin kembali mengucapkan terima kasih atas waktu dan peluang yang telah Anda berikan. Semoga Anda lekas menemukan kandidat yang pas untuk mengisi posisi ini, dan saya mendoakan yang terbaik bagi kesuksesan [Nama Perusahaan] di masa depan.

Hormat saya,

[Nama Lengkap Anda]
[Nomor Telepon Anda (Opsional)]
[Alamat Email Anda]

Contoh Email untuk Alasan Gaji/Benefit (dengan hati-hati)

Jika alasan utamanya adalah kompensasi, sampaikan dengan seribu satu kehati-hatian.

Subjek: Penolakan Tawaran Kerja - [Nama Anda] - Posisi [Nama Posisi]

Yth. Bapak/Ibu [Nama Manajer Perekrutan/Perekrut],

Terima kasih banyak atas pinangan untuk posisi [Nama Posisi] di [Nama Perusahaan]. Saya sungguh menghargai waktu yang telah Anda luangkan untuk berdiskusi dengan saya perihal peran ini.

Setelah menelaah tawaran Anda secara saksama, saya memutuskan untuk menolaknya. Meskipun saya sangat tertarik dengan peran dan tim Anda, saya telah menerima pinangan yang lebih selaras dengan ekspektasi saya terkait kompensasi dan tunjangan.

Saya sungguh menghargai peluang yang telah Anda berikan dan berharap Anda menemukan kandidat yang pas untuk posisi ini. Semoga [Nama Perusahaan] senantiasa berjaya.

Hormat saya,

[Nama Lengkap Anda]

Contoh Penolakan via Telepon (Poin-Poin)

Jika Anda berketetapan hati untuk menolak via telepon, persiapkanlah poin-poin berikut:

  • “Halo [Nama Perekrut], terima kasih banyak sudah meluangkan waktu. Saya menelepon perihal pinangan untuk posisi [Nama Posisi].”
  • “Saya sungguh menghargai tawaran dan peluang yang telah Anda berikan.”
  • “Namun, setelah menimbang-nimbang dengan seksama, dengan segala hormat, saya memutuskan untuk menolak tawaran ini.”
  • “Saya telah menemukan peluang lain yang lebih sejalan dengan tujuan karir saya.” (Atau alasan singkat lainnya)
  • “Saya berharap yang terbaik bagi Anda dalam menemukan kandidat yang pas dan bagi kesuksesan [Nama Perusahaan].”
  • Usai panggilan, jangan lupa kirim email konfirmasi singkat.

Etika Penting Saat Menolak Tawaran Kerja

Di samping struktur pesan, ada beberapa etika krusial yang patut Anda perhatikan saat menolak tawaran kerja, demi menjaga profesionalisme dan reputasi Anda.

Bersikap Sopan dan Profesional

Ini adalah aturan emas yang tak boleh ditawar dalam setiap komunikasi profesional. Jaga intonasi bicara atau gaya tulisan Anda agar tetap santun, penuh hormat, dan jauh dari riak emosi negatif. Meski Anda punya alasan kuat untuk menolak, tak ada faedahnya bersikap kasar, mengkritik, atau meremehkan perusahaan. Ingatlah, Anda adalah duta bagi diri sendiri dan cerminan citra profesional Anda.

Hindari penggunaan bahasa gaul, singkatan, atau emoji. Pastikan email Anda bersih dari kesalahan tata bahasa dan ejaan, sebab ini merefleksikan ketelitian Anda.

Berikan Tanggapan Tepat Waktu

Seperti yang sudah disinggung di muka, jangan biarkan perusahaan menunggu terlalu lama. Sampaikan respons penolakan Anda secepat kilat setelah Anda mantap dengan keputusan, dan selalu dalam kurun waktu yang telah ditetapkan. Penundaan bisa menjadi sandungan bagi proses rekrutmen perusahaan dan mengesankan kurangnya rasa hormat.

Jika Anda butuh waktu ekstra untuk menimbang-nimbang, komunikasikan hal ini kepada perekrut dengan jujur dan santun, serta berikan estimasi kapan Anda bisa memberi keputusan.

Jangan Bernegosiasi Ulang Setelah Menolak

Begitu Anda resmi menolak tawaran kerja, jangan coba-coba menarik kembali penolakan Anda atau memulai kembali negosiasi. Ini sungguh jauh dari profesional dan bisa meruntuhkan kredibilitas Anda. Keputusan Anda haruslah mutlak dan tak bisa diganggu gugat setelah disampaikan.

Jika Anda masih ingin bernegosiasi, lakukanlah sebelum Anda melontarkan penolakan. Setelah penolakan disampaikan, perusahaan kemungkinan besar akan segera beralih ke kandidat lain. Mencoba membatalkan penolakan Anda hanya akan membuat Anda terkesan plin-plan dan tak bisa dipegang omongan.

Jaga Kerahasiaan

Rincian tawaran kerja yang Anda terima, meliputi gaji, tunjangan, dan kondisi kerja, adalah rahasia dapur antara Anda dan perusahaan. Jangan sekali-kali membicarakan atau membeberkan rincian ini kepada pihak ketiga yang tak ada sangkut pautnya, apalagi di media sosial atau forum umum. Menjaga kerahasiaan adalah bagian tak terpisahkan dari etika profesional dan menunjukkan betapa Anda menjunjung tinggi integritas.

Anda bisa saja mendiskusikannya dengan orang terdekat atau mentor yang Anda percaya untuk meminta nasihat, namun pastikan informasi tersebut tidak sampai bocor ke telinga publik.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Meski niat Anda tulus, beberapa kekeliruan umum saat menolak tawaran kerja bisa berakibat fatal pada reputasi profesional Anda. Penting sekali untuk menyadari dan menjauhi hal-hal ini.

Menghilang Tanpa Kabar (Ghosting)

Salah satu kekeliruan paling fatal dan jauh dari kata profesional adalah menghilang bak ditelan bumi tanpa memberi respons setelah menerima tawaran kerja. Ini yang lazim disebut sebagai ghosting. Tindakan ini bukan cuma tak sopan, tapi juga sangat mencoreng nama baik Anda. Perekrut akan menyimpan memori buruk tentang perilaku ini dan kecil kemungkinan akan kembali mempertimbangkan Anda di kemudian hari.

Selalu berikan respons, meski respons itu berupa penolakan. Sedikit waktu yang Anda korbankan untuk mengirim email penolakan jauh lebih berharga daripada merusak citra profesional Anda secara permanen.

Memberikan Alasan yang Tidak Jujur atau Negatif

Meski Anda tak perlu merinci alasan, jauhi memberi alasan yang tidak jujur atau bernada negatif tentang perusahaan, posisi, atau orang-orang yang Anda temui. Kebohongan bisa terbongkar, dan alasan negatif bisa menorehkan kesan buruk yang sulit dihapus. Jujurlah secara umum, atau berikan alasan netral seperti “ada peluang lain yang lebih cocok.”

Misalnya, jangan melontarkan “Saya tidak suka dengan manajer yang mewawancarai saya” atau “Gaji Anda terlalu minim” secara terang-terangan. Lebih baik fokus pada apa yang Anda idamkan dan bagaimana tawaran lain lebih selaras dengan keinginan tersebut.

Menunda Penolakan Terlalu Lama

Seperti yang sudah kita ulas, menunda-nunda penolakan bisa menjadi batu sandungan bagi proses rekrutmen perusahaan dan mengindikasikan kurangnya rasa hormat. Jika hati Anda sudah mantap untuk menolak, sampaikanlah secepatnya. Jangan sampai menunggu hingga detik-detik terakhir tenggat waktu jika Anda sudah mengambil keputusan bulat.

Penundaan yang tak beralasan juga bisa membuat Anda terkesan plin-plan atau tidak tegas, yang tentu bukan karakter idaman bagi seorang profesional.

Menolak Lewat Media Sosial atau Pesan Singkat Informal

Penolakan tawaran kerja adalah komunikasi resmi yang tak bisa dianggap enteng. Jangan sekali-kali menolak tawaran kerja melalui media sosial (semisal komentar di LinkedIn atau pesan langsung Twitter) atau pesan singkat yang informal (SMS/WhatsApp). Metode komunikasi ini jauh dari kesan profesional dan sungguh tak pantas untuk urusan sepenting pinangan kerja.

Selalu gunakan email formal, atau bila dirasa perlu, panggilan telepon yang disusul dengan email konfirmasi.

Menjaga Jaringan Profesional Anda

Meski Anda menolak pinangan kerja, proses ini sejatinya bisa menjadi ladang kesempatan untuk memperkokoh jejaring profesional Anda, bukan malah merusaknya.

Tetap Terhubung (Opsional)

Jika Anda menyimpan kesan positif terhadap perusahaan atau sang perekrut, meski Anda menolak tawarannya, tak ada salahnya mempertimbangkan untuk tetap menjalin kontak. Kirimkan permintaan koneksi di LinkedIn kepada perekrut atau manajer perekrutan yang telah mewawancarai Anda. Dalam pesan koneksi, Anda bisa kembali menyampaikan apresiasi atas waktu yang mereka luangkan dan mendoakan yang terbaik.

Ini adalah cara yang elegan untuk menjaga agar pintu peluang tetap terbuka di kemudian hari, tanpa pula menciptakan harapan palsu. Namun, jangan memaksakan diri untuk menjalin hubungan jika Anda merasa tak ada potensi atau minat di sana.

Ucapkan Terima Kasih kepada Perekrut Individu

Jika ada satu atau dua individu yang benar-benar berjasa atau memberi Anda pengalaman wawancara yang berkesan, tak ada salahnya mengirimkan pesan terima kasih singkat yang dipersonalisasi kepada mereka, setelah Anda mengirimkan email penolakan resmi. Ini bisa berupa email ringkas berisi apresiasi atas bimbingan atau wawasan berharga yang telah mereka berikan.

Sentuhan personal semacam ini bisa menorehkan kesan yang amat positif dan memperkokoh jejaring profesional Anda, menunjukkan bahwa Anda menghargai setiap interaksi yang terjalin.

Kesimpulan

Menolak pinangan kerja adalah episode yang tak terhindarkan dalam lakon karir setiap profesional. Namun, bagaimana Anda memainkan peran ini bisa berdampak besar pada reputasi dan pintu peluang Anda kelak. Dengan mengikuti panduan ini, Anda dapat memastikan bahwa proses penolakan Anda berjalan dengan menjunjung tinggi etika, kesopanan, dan profesionalisme.

Ingatlah untuk senantiasa berlaku hormat, memberi tanggapan tanpa menunda, dan menjaga komunikasi tetap gamblang serta bernada positif. Jadikan email sebagai metode komunikasi utama dan jauhi kesalahan fatal seperti ghosting atau melontarkan alasan yang negatif. Setiap interaksi di belantara dunia profesional adalah sebuah panggung, tempat Anda bisa membangun atau meruntuhkan reputasi.

Dengan menolak tawaran kerja secara profesional, Anda tak hanya menghargai waktu dan jerih payah perusahaan, melainkan juga menjaga pintu peluang tetap terbuka lebar di masa depan, sekaligus memperkokoh jejaring profesional Anda. Percayalah pada keputusan Anda dan sampaikan dengan kepala tegak, sebab ini adalah langkah krusial dalam menakhodai karir Anda dengan bijaksana.

*Follow Fixioner on Google News.

TamuBetMPOATMMahjong Ways 2 Emang RajanyaRitme Scatter Tak Lazim Mahjong Wins 3Teknik Analisa RTP Berlapis Mahjong Ways 1Modal Receh Tetap Jp Di MahjongKunci Utama Temukan Pola Naga Hitam