Proses mencari pekerjaan seringkali terasa bagai berjalan di atas bara, penuh ketidakpastian. Setelah berjam-jam berkutat menyusun resume terbaik dan surat lamaran yang memukau hati, lalu Anda menekan tombol ‘kirim’, dan setelah itu… hening. Senyap. Di titik ini, tak sedikit pelamar yang hanya bisa pasrah menanti, dengan secercah harapan rekruter akan mengetuk pintu mereka.
Tapi, pernahkah terpikir bahwa ada satu langkah proaktif yang bisa mengubah segalanya, meningkatkan peluang Anda dilirik rekruter secara signifikan? Ya, itu adalah follow up lamaran kerja. Tindakan yang sepintas sederhana ini, tak jarang menjadi jembatan pembeda antara lamaran yang menarik perhatian dan yang tenggelam begitu saja. Lebih dari sekadar mengingatkan, ini adalah etalase antusiasme dan profesionalisme Anda.
Lewat artikel ini, kami akan membedah tuntas mengapa follow up lamaran kerja itu penting, kapan waktu yang paling pas, dan bagaimana cara melakukannya secara efektif, baik usai mengirim CV maupun setelah sesi wawancara. Siap-siap, mari kita menyelami strategi jitu yang akan membantu Anda bersinar di tengah sengitnya persaingan.
Mengapa Follow Up Lamaran Kerja Penting?
Seringkali, banyak pencari kerja merasa tugas mereka rampung begitu tombol kirim lamaran ditekan. Padahal, di tengah rimba rekrutmen yang kian kompetitif ini, follow up adalah kunci krusial yang bisa mengangkat Anda di atas kandidat lain.
Menunjukkan Antusiasme dan Proaktivitas
Follow up lamaran kerja yang dilakukan secara tepat bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa Anda benar-benar menaruh hati pada posisi dan perusahaan impian tersebut. Ini adalah cerminan nyata dari etos kerja Anda yang proaktif dan penuh inisiatif.
Rekruter umumnya akan lebih condong pada kandidat yang tak segan-segan mengambil langkah ekstra, menunjukkan semangat membara. Antusiasme semacam ini bisa menjadi pembeda krusial, terutama saat mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara kandidat-kandidat dengan kualifikasi yang setara.
Meningkatkan Visibilitas Lamaran Anda
Departemen HR tak jarang dibanjiri ratusan, bahkan ribuan, lamaran untuk satu posisi saja. Bayangkan, lamaran Anda bisa saja dengan mudah tenggelam di antara lautan email atau sistem pelacakan pelamar (ATS) yang menggunung.
Nah, dengan melakukan follow up, Anda seperti melambungkan lamaran Anda kembali ke permukaan, langsung ke perhatian mereka. Ini adalah kesempatan emas kedua untuk menyegarkan ingatan rekruter akan keberadaan Anda, dan sekaligus menegaskan kembali mengapa Anda adalah sosok yang tepat, terutama ketika mereka tengah meninjau ulang daftar kandidat.
Membangun Kesan Profesional
Follow up yang dieksekusi dengan apik adalah cerminan nyata dari profesionalisme Anda. Ini mengindikasikan bahwa Anda adalah pribadi yang terorganisir, menghargai waktu berharga rekruter, dan memang sungguh-sungguh dalam upaya pencarian kerja.
Pesan follow up yang ringkas, bernada sopan, dan tertata rapi bisa meninggalkan jejak kesan positif yang mendalam. Dengan begitu, Anda membangun citra diri sebagai individu yang teliti dan berkomitmen tinggi, dua kualitas yang selalu jadi incaran utama setiap perusahaan.
Kapan Waktu Terbaik untuk Follow Up Lamaran Kerja?
Dalam urusan follow up, waktu adalah raja. Terburu-buru bisa dicap agresif, namun terlalu bertele-tele justru bisa membuat Anda gigit jari kehilangan peluang. Nah, berikut adalah panduan praktis kapan waktu yang paling tepat untuk ‘mengetuk pintu’ follow up lamaran kerja Anda.
Setelah Mengirim CV/Resume
Idealnya, berikan jeda waktu sekitar satu hingga dua minggu setelah Anda mengirimkan lamaran kerja. Jeda ini memberi rekruter ruang bernapas untuk memproses lamaran-lamaran awal dan memulai proses penyaringan kandidat. Jika deskripsi pekerjaan sudah menyebutkan kerangka waktu respons, patuhi saja arahan tersebut.
Jangan pernah tergiur untuk langsung mengirim email follow up sehari setelah CV terkirim. Berikan rekruter waktu dan ruang yang mereka butuhkan untuk menuntaskan prosesnya. Ingat, niat Anda adalah mengingatkan dengan sopan, bukan terkesan mendesak.
Setelah Wawancara Pertama
Segera kirimkan email ucapan terima kasih atau follow up dalam kurun waktu 24 jam setelah wawancara Anda usai. Ini adalah kesempatan emas untuk kembali menegaskan minat Anda yang membara pada posisi tersebut, sekaligus menghaturkan terima kasih atas waktu berharga yang telah diluangkan pewawancara.
Pastikan pesan Anda ringkas, profesional, dan cerdas mengulang poin-poin kunci diskusi atau menegaskan kembali mengapa Anda adalah pilihan terbaik untuk peran itu. Ini merefleksikan ketelitian Anda terhadap detail dan etika profesionalisme yang tinggi.
Setelah Wawancara Lanjutan
Mirip dengan wawancara pertama, segera kirimkan email follow up dalam waktu 24 jam setelah wawancara lanjutan Anda. Apabila Anda sudah diberitahu tentang tenggat waktu keputusan, dan tenggat itu sudah lewat tanpa ada kabar burung, Anda boleh saja melayangkan follow up tambahan setelah 3-5 hari kerja dari tanggal yang dijanjikan.
Jangan lupa, sesuaikan isi pesan Anda agar merefleksikan diskusi yang lebih mendalam selama wawancara lanjutan, dan jangan ragu untuk kembali menyuarakan antusiasme Anda untuk segera bergabung dengan tim.
Jika Belum Ada Kabar Sama Sekali
Jika setelah sekian waktu yang wajar (misalnya 2-3 minggu pasca follow up pertama atau setelah tanggal yang dijanjikan) Anda masih belum menerima secuil kabar pun, Anda bisa mempertimbangkan untuk mengirimkan follow up kedua. Namun, pastikan nada Anda tetap santun dan jauh dari kesan menuntut.
Tanyakan dengan halus apakah ada perkembangan terbaru mengenai status lamaran Anda, dan tegaskan kembali minat Anda yang tak pudar. Ingat, proses rekrutmen memang adakalanya berjalan lambat, jadi kesabaran adalah kunci utama.
Media Apa yang Tepat untuk Follow Up?
Memilih media komunikasi yang pas untuk follow up lamaran kerja itu krusial, demi menjaga profesionalisme dan memastikan pesan Anda tersampaikan dengan efektif.
Email Profesional
Email adalah sarana follow up yang paling lazim dan sangat direkomendasikan. Melalui email, Anda bisa menyampaikan pesan secara terstruktur, merujuk kembali lamaran atau wawancara sebelumnya, dan memberi rekruter keleluasaan waktu untuk merespons sesuai kenyamanan mereka.
Pastikan alamat email Anda terlihat profesional, dan subjek emailnya lugas nan jelas. Selalu usahakan untuk membalas ke utas email sebelumnya jika ada, atau gunakan alamat email yang sama seperti saat Anda melamar.
LinkedIn InMail atau Pesan
Jika Anda sudah terkoneksi dengan rekruter di LinkedIn, mengirim pesan via platform ini bisa jadi opsi menarik, terutama jika Anda tidak memiliki alamat email langsung mereka. LinkedIn InMail sendiri merupakan cara yang cukup efektif untuk menjangkau mereka secara profesional.
Namun, pastikan Anda memiliki koneksi yang relevan, atau manfaatkan fitur InMail jika Anda berlangganan akun premium. Hindari mengirim permintaan koneksi secara terburu-buru hanya demi tujuan follow up semata.
Telepon (Hati-hati)
Melakukan follow up via telepon adalah pilihan yang tidak terlalu dianjurkan dan patut dilakukan dengan ekstra hati-hati. Panggilan telepon berisiko mengganggu fokus rekruter dan bisa jadi dicap terlalu agresif.
Angkat telepon hanya jika Anda memang sudah diundang untuk menghubungi, atau jika Anda memang sudah memiliki hubungan yang cukup akrab dengan rekruter tersebut. Apabila Anda memutuskan untuk menelepon, pastikan Anda sudah menyiapkan poin-poin pembicaraan yang jelas, dan jaga agar percakapan tetap ringkas dan profesional.
Struktur Email Follow Up Lamaran Kerja yang Efektif
Email follow up yang jitu mestilah ringkas, lugas, dan profesional. Dengan mengikuti struktur tertentu, pesan Anda akan tersampaikan dengan apik dan meninggalkan kesan positif yang tak terlupakan.
Subjek Email yang Jelas
Subjek email ibarat gerbang pertama yang akan rekruter lihat. Pastikan subjek Anda lugas, ringkas, dan langsung menohok inti. Ini memudahkan rekruter mengenali email Anda dalam sekejap mata.
- Contoh: Follow Up Lamaran Kerja – [Nama Anda] – [Posisi yang Dilamar]
- Contoh: Terima Kasih – Wawancara Posisi [Nama Posisi] – [Nama Anda]
Jauhi subjek yang terlalu generik seperti “Halo” atau “Pekerjaan”, yang mudah terabaikan.
Salam Pembuka yang Sopan
Selalu awali dengan salam pembuka yang santun dan personal, bilamana memungkinkan. Jika Anda sudah tahu nama rekruter atau manajer perekrutan, langsung saja gunakan nama beliau.
- Contoh: Yth. Bapak/Ibu [Nama Rekruter],
- Contoh: Yang Terhormat Tim Rekrutmen [Nama Perusahaan], (jika Anda tidak tahu nama spesifik)
Tentu saja, hindari salam yang terlalu akrab atau informal.
Isi Email: Mengingatkan dan Menegaskan
Inilah jantung dari email Anda. Awali dengan mengingatkan rekruter perihal lamaran atau wawancara Anda, lengkap dengan tanggalnya jika memang relevan. Setelah itu, tegaskan kembali minat membara Anda pada posisi tersebut, dan jelaskan mengapa Anda adalah pilihan yang paling pas.
- Untuk lamaran: Sebutkan tanggal Anda mengirim lamaran dan posisi yang Anda lamar. Anda bisa menambahkan satu kalimat mengapa Anda tertarik pada posisi tersebut atau bagaimana kualifikasi Anda sesuai.
- Untuk wawancara: Ucapkan terima kasih atas waktu mereka, sebutkan tanggal wawancara, dan referensikan secara singkat poin diskusi penting atau bagaimana Anda dapat memberikan nilai tambah.
Pastikan paragraf ini tetap ringkas dan menyoroti nilai tambah konkret yang bisa Anda hadirkan.
Penutup yang Profesional
Tutup email Anda dengan penutup yang sopan dan berkelas. Anda boleh saja menanyakan tentang tahapan selanjutnya dalam proses rekrutmen, atau kapan kiranya Anda bisa berharap untuk mendengar kabar.
- Contoh: “Saya menantikan kabar selanjutnya dari Bapak/Ibu.”
- Contoh: “Mohon informasinya mengenai tahapan selanjutnya.”
Jangan sampai terlewat untuk kembali menghaturkan terima kasih.
Tanda Tangan
Sertakan tanda tangan profesional Anda, lengkap dengan informasi kontak yang relevan dan mudah dijangkau.
- Hormat saya,
- [Nama Lengkap Anda]
- [Nomor Telepon]
- [Alamat Email]
- [Link Profil LinkedIn Anda (opsional)]
Contoh Email Follow Up Lamaran Kerja Setelah Mengirim CV
Di bawah ini, tersaji beberapa contoh email follow up yang bisa Anda adopsi setelah mengirimkan CV, disesuaikan dengan beragam skenario yang mungkin Anda hadapi.
Contoh 1: Umum
Gunakan contoh ini ketika Anda belum menerima kabar apa pun setelah melayangkan lamaran dalam kurun waktu yang wajar (misalnya 1-2 minggu).
Subjek: Follow Up Lamaran Kerja - [Nama Anda] - Posisi [Nama Posisi]
Yth. Bapak/Ibu [Nama Rekruter/Tim Rekrutmen],
Saya menulis email ini untuk menindaklanjuti lamaran kerja saya untuk posisi [Nama Posisi] yang saya kirimkan pada tanggal [Tanggal Pengiriman Lamaran].
Saya sangat antusias dengan kesempatan ini dan percaya bahwa pengalaman saya di [Sebutkan 1-2 pengalaman relevan singkat] sangat cocok dengan kualifikasi yang dicari. Saya telah melampirkan kembali resume saya untuk referensi Anda.
Mohon informasinya mengenai status lamaran saya dan tahapan selanjutnya dalam proses rekrutmen. Saya menantikan kabar baik dari Bapak/Ibu.
Terima kasih atas waktu dan perhatiannya.
Hormat saya,
[Nama Lengkap Anda]
[Nomor Telepon]
[Alamat Email]
[Link Profil LinkedIn (opsional)]
Contoh 2: Setelah Tahu Lowongan Dibuka
Jika Anda melayangkan lamaran setelah mengetahui pengumuman lowongan dan ingin kembali menegaskan minat Anda yang besar.
Subjek: Follow Up: Lamaran Posisi [Nama Posisi] - [Nama Anda]
Yth. Bapak/Ibu [Nama Rekruter/Tim Rekrutmen],
Semoga email ini menemukan Anda dalam keadaan baik.
Saya ingin menindaklanjuti lamaran saya untuk posisi [Nama Posisi] di [Nama Perusahaan] yang saya ajukan pada tanggal [Tanggal]. Saya sangat tertarik dengan kesempatan ini setelah melihat pengumuman lowongan di [Sebutkan Platform, misal: LinkedIn/situs web perusahaan].
Saya yakin kemampuan saya di bidang [Sebutkan keahlian kunci] dan pengalaman saya dalam [Sebutkan pengalaman relevan] akan memberikan kontribusi positif bagi tim Anda.
Saya siap untuk membahas lebih lanjut bagaimana saya dapat membantu mencapai tujuan perusahaan. Mohon informasinya mengenai langkah selanjutnya.
Terima kasih atas waktu yang telah Anda luangkan.
Hormat saya,
[Nama Lengkap Anda]
[Nomor Telepon]
[Alamat Email]
[Link Profil LinkedIn (opsional)]
Contoh Email Follow Up Lamaran Kerja Setelah Wawancara
Mengirim email follow up segera setelah wawancara adalah salah satu langkah paling jitu untuk meninggalkan kesan positif yang mendalam dan menegaskan kembali minat Anda.
Contoh 1: Setelah Wawancara Pertama
Pastikan email ini terkirim dalam kurun waktu 24 jam setelah wawancara Anda usai.
Subjek: Terima Kasih - Wawancara Posisi [Nama Posisi] - [Nama Anda]
Yth. Bapak/Ibu [Nama Pewawancara],
Terima kasih banyak atas waktu yang telah Anda luangkan untuk wawancara saya hari ini/kemarin, [Tanggal Wawancara], untuk posisi [Nama Posisi]. Saya sangat menikmati percakapan kita dan belajar lebih banyak tentang [Sebutkan satu hal spesifik yang Anda pelajari atau diskusikan].
Diskusi kita mengenai [Sebutkan topik spesifik dari wawancara] semakin memperkuat minat saya terhadap peran ini dan [Nama Perusahaan]. Saya yakin bahwa keterampilan saya di [Sebutkan 1-2 skill relevan] dan pengalaman saya dalam [Sebutkan 1-2 pengalaman relevan] sangat cocok dengan kebutuhan tim Anda.
Saya sangat antusias dengan kemungkinan untuk berkontribusi di [Nama Perusahaan] dan menantikan kabar selanjutnya mengenai proses rekrutmen ini.
Terima kasih sekali lagi.
Hormat saya,
[Nama Lengkap Anda]
[Nomor Telepon]
[Alamat Email]
[Link Profil LinkedIn (opsional)]
Contoh 2: Setelah Wawancara Lanjutan
Apabila Anda sudah menjejak beberapa tahap wawancara dan ingin menindaklanjuti pasca wawancara terakhir.
Subjek: Follow Up - Wawancara Lanjutan Posisi [Nama Posisi] - [Nama Anda]
Yth. Bapak/Ibu [Nama Pewawancara],
Saya ingin mengucapkan terima kasih kembali atas kesempatan wawancara lanjutan pada tanggal [Tanggal Wawancara Lanjutan] untuk posisi [Nama Posisi]. Saya sangat menghargai waktu dan insight yang Anda berikan mengenai [Sebutkan aspek spesifik yang dibahas, misal: budaya tim atau tantangan proyek].
Percakapan kita semakin meyakinkan saya bahwa posisi ini adalah langkah karir yang tepat bagi saya, dan saya sangat bersemangat untuk membawa [Sebutkan nilai atau keahlian kunci Anda] ke [Nama Perusahaan].
Saya menantikan kabar baik dari Bapak/Ibu dan sangat berharap untuk dapat bergabung dengan tim Anda. Mohon informasinya mengenai tahapan selanjutnya.
Terima kasih atas perhatian Anda.
Hormat saya,
[Nama Lengkap Anda]
[Nomor Telepon]
[Alamat Email]
[Link Profil LinkedIn (opsional)]
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Follow Up
Follow up lamaran kerja itu butuh strategi matang dan kehati-hatian ekstra. Beberapa poin penting di bawah ini perlu Anda cermati agar follow up Anda tidak hanya efektif, tetapi juga tetap profesional.
Jangan Terlalu Agresif
Ada benang merah tipis antara menunjukkan antusiasme dan terkesan putus asa atau bahkan agresif. Jauhi kebiasaan mengirim email atau menelepon berulang kali dalam waktu singkat. Satu follow up yang terencana matang jauh lebih berbobot ketimbang rentetan follow up yang bernada mendesak.
Jika setelah follow up pertama atau kedua Anda tak kunjung mendapat respons, mungkin sudah saatnya Anda mengalihkan fokus ke peluang lain. Kadang kala, ketiadaan respons justru merupakan respons itu sendiri.
Jaga Profesionalisme
Setiap interaksi, termasuk saat follow up, haruslah menjadi cerminan nyata dari profesionalisme Anda. Gunakan bahasa yang santun, tata bahasa yang baku, serta format yang tertata apik. Jauhi penggunaan singkatan atau gaya bahasa yang terlalu informal.
Ingatlah selalu, setiap interaksi adalah bagian tak terpisahkan dari penilaian Anda sebagai seorang kandidat. Satu kesalahan kecil dalam profesionalisme bisa meninggalkan noda kesan negatif yang sulit dihapus.
Periksa Kembali Detail Lamaran
Sebelum melayangkan follow up, ada baiknya Anda meninjau ulang semua detail terkait lamaran Anda. Ini mencakup tanggal pengiriman, posisi yang Anda lamar, serta nama rekruter (jika informasinya tersedia).
Informasi yang akurat akan jadi senjata ampuh Anda untuk menyusun email follow up yang spesifik, sekaligus menghindarkan Anda dari kekeliruan yang dapat mengikis kredibilitas.
Bersiaplah untuk Berbagai Respon
Tidak setiap follow up akan berujung pada tawaran pekerjaan. Anda bisa saja menerima email penolakan, undangan wawancara lanjutan, atau bahkan nihil respons sama sekali. Siapkan mental Anda untuk menghadapi segala kemungkinan ini.
Andai kata Anda menerima penolakan, tanggapilah dengan santun dan haturkan terima kasih atas waktu yang telah mereka luangkan. Sikap ini akan meninggalkan kesan positif yang abadi dan menjaga jalinan jaringan profesional Anda tetap harmonis.
Kesalahan Umum dalam Follow Up Lamaran Kerja
Kendati follow up adalah langkah yang powerful, ada beberapa kekeliruan umum yang kerap dilakukan pelamar dan justru bisa jadi bumerang. Menghindari kesalahan-kesalahan ini tentu akan melambungkan peluang Anda.
Tidak Melakukan Follow Up Sama Sekali
Ini adalah blunder fatal yang paling sering terjadi. Tak sedikit pelamar yang enggan melangkah ke tahap follow up, lantaran cemas akan mengganggu atau dicap terlalu agresif. Alhasil, mereka kehilangan kesempatan emas untuk bersinar dan menyegarkan ingatan rekruter akan kualifikasi mumpuni yang mereka miliki.
Ingat, para rekruter punya segudang pekerjaan yang harus diselesaikan. Follow up yang santun dan tepat waktu justru bisa jadi penyelamat bagi mereka, sangat dihargai karena turut meringankan proses seleksi.
Follow Up Terlalu Cepat atau Terlambat
Seperti yang telah kita ulas, timing adalah penentu segalanya. Melayangkan follow up sehari setelah lamaran terkirim bisa terkesan tak sabaran. Sebaliknya, jika Anda menunggu terlalu lama (katakanlah sebulan penuh) setelah wawancara, nama Anda bisa saja menguap dari ingatan mereka.
Patuhi panduan waktu yang telah disarankan, dan sesuaikan pula dengan informasi kerangka waktu rekrutmen yang mungkin Anda dapatkan dari perusahaan.
Email Follow Up yang Tidak Profesional
Email yang bertebaran salah ketik, dengan tata bahasa amburadul, atau bernada terlalu santai bisa merusak citra profesional Anda seketika. Begitu pula, email yang terlalu bertele-tele atau tidak fokus bisa membuat rekruter kehilangan minat dalam sekejap.
Selalu lakukan pengecekan ulang email Anda secara seksama sebelum menekan tombol kirim. Pastikan subjeknya lugas, isinya ringkas, dan tanda tangan Anda lengkap. Jangan ragu menggunakan aplikasi pengecek tata bahasa jika memang dirasa perlu.
Tidak Menyesuaikan Pesan
Mengirim template email yang seragam untuk setiap follow up tanpa penyesuaian sedikit pun adalah sebuah kekeliruan besar. Setiap pesan follow up wajib disesuaikan dengan posisi yang dilamar, tahapan proses rekrutmen, dan bahkan kepada siapa email tersebut dialamatkan.
Personalisasi adalah bukti nyata bahwa Anda seorang yang teliti, dan memang sungguh-sungguh peduli dengan peluang tersebut, bukan sekadar mengirim pesan massal tanpa arti.
Kesimpulan
Melakukan follow up lamaran kerja, jangan salah, bukan sekadar basa-basi belaka. Ini adalah strategi cerdas nan jitu yang bisa melambungkan peluang Anda meraih pekerjaan impian. Langkah ini adalah etalase inisiatif, antusiasme, dan profesionalisme Anda—kualitas-kualitas yang selalu jadi rebutan setiap pemberi kerja.
Dengan bekal pemahaman kapan waktu terbaik untuk follow up, media yang pas, dan cara merangkai pesan yang efektif, Anda pasti bisa menonjol di antara lautan kandidat lainnya. Selalu ingat untuk menjaga nada bicara yang santun, pesan yang ringkas, dan relevansi dengan tahapan proses rekrutmen yang tengah Anda jalani. Jauhi kesalahan-kesalahan umum, seperti follow up yang terkesan agresif atau jauh dari kesan profesional.
Praktikkan tips-tips ini, dan saksikan sendiri bagaimana follow up yang terencana apik bisa jadi kunci pembuka gerbang kesuksesan karir Anda. Jangan pernah sekali-kali meremehkan kekuatan dahsyat komunikasi proaktif dalam petualangan pencarian kerja Anda.